BULELENG – Rindam IX/Udayana melaksanakan upacara penutupan Yuddhawastu Pramukha Dikjurbaif Abit Dikmaba TNI AD Gelombang II dan Dikjurtaif Abit Dikmata TNI AD Gelombang II Tahun Anggaran 2026, Kamis (8/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Desa Banyupoh, Kecamatan Grokgak, Kabupaten Buleleng, tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan dan pembentukan prajurit Infanteri TNI Angkatan Darat.
Upacara dipimpin Danrindam IX/Udayana Brigjen TNI Anwar, S.H. Dalam rangkaian kegiatan tersebut juga dilaksanakan tradisi pembaretan serta pengukuhan penggunaan baret dan brevet kualifikasi Yuddhawastu Pramukha bagi para prajurit yang telah menyelesaikan pendidikan.
Tradisi pembaretan menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan prajurit Infanteri. Prosesi tersebut sekaligus menjadi simbol pengukuhan identitas dan kesiapan prajurit dalam menjalankan tugas di berbagai medan serta kondisi.
Dalam amanatnya, ditekankan bahwa pendidikan Yuddhawastu Pramukha tidak hanya berorientasi pada kemampuan fisik, tetapi juga membentuk kemampuan teknis dan taktis prajurit agar mampu menghadapi berbagai situasi dalam pelaksanaan tugas.
Prajurit Infanteri dituntut memiliki kemampuan bergerak dan bertempur di berbagai medan dan cuaca, menguasai kemampuan menembak, serta memiliki disiplin dan ketahanan fisik maupun mental yang baik.
Selain kemampuan teknis dan taktis, para prajurit juga diingatkan untuk menjunjung tinggi profesionalisme dan disiplin. Setiap prajurit harus mampu menjaga sikap dalam menjalankan tugas serta tetap menghormati masyarakat sebagai bagian penting dalam mendukung pelaksanaan tugas TNI AD.
Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan sejumlah penekanan kepada para prajurit. Kesiapan fisik dan mental harus terus dipelihara, sementara disiplin, profesionalisme, solidaritas dan kekompakan harus menjadi landasan dalam melaksanakan tugas.
Para prajurit juga diharapkan terus belajar dan mengembangkan kemampuan seiring perkembangan teknologi dan metode pelaksanaan tugas, sekaligus senantiasa menjaga nama baik dan kehormatan Korps Infanteri.
Penyelenggaraan pendidikan dan tradisi pembaretan tersebut menjadi momentum bagi para prajurit untuk mengaplikasikan pengetahuan serta keterampilan yang telah diperoleh selama mengikuti pendidikan.
Dengan berakhirnya pendidikan, para prajurit diharapkan mampu mengemban tugas dan tanggung jawab secara profesional serta memberikan pengabdian terbaik bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.


