Wabup Tabanan I Made Dirga Hadiri Pembukaan Semarak Kejuaraan Pencak Silat Bupati Cup 2026 di GOR The Best Utara
- account_circle Rossa Rossa
- calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dahulu kala di Bali, hiduplah seorang gadis yatim piatu bernama Ni Tuwung Kuning. Ia tinggal bersama ibu tirinya yang kejam dan saudara tirinya yang angkuh bernama Ni Luh. Mereka hidup miskin di sebuah desa, tapi Ni Tuwung Kuning dikenal karena kecantikannya yang luar biasa dan hatinya yang lembut. Setiap hari, ibu tiri menyuruhnya bekerja keras: menyapu halaman, mencuci pakaian, dan mengurus sawah, sementara Ni Luh hanya bermalas-malasan.
Suatu hari, raja kerajaan mengumumkan sayembara: siapa pun yang bisa membuat kain kuning sempurna (kuning langit, halus seperti sutra, dan tak ternoda) akan dinikahkan dengan putra mahkota dan menjadi ratu. Banyak gadis bangsawan mencoba, tapi gagal. Ibu tiri Ni Tuwung Kuning menyuruh Ni Luh ikut sayembara, tapi Ni Luh tak bisa membuat kain seperti itu.
Malam itu, Ni Tuwung Kuning diam-diam menenun kain di bawah pohon beringin tua. Tiba-tiba, muncul seorang lelembut (makhluk halus atau dewa kecil dalam mitos Bali) yang tersentuh oleh air matanya. Lelembut itu memberinya keajaiban: sehelai kain kuning sempurna yang bersinar seperti matahari terbit. Keesokan harinya, Ni Tuwung Kuning membawa kain itu ke istana.
Raja dan putra mahkota kagum. Namun, ibu tiri dan Ni Luh iri hati. Mereka menyelinap ke kamar Ni Tuwung Kuning, merobek kain itu, dan menyalahkannya. Ni Tuwung Kuning menangis lagi di bawah pohon beringin. Lelembut muncul kembali, memberinya kain baru yang lebih indah. Kali ini, kainnya tak bisa dirusak oleh siapa pun.
Di hadapan raja, Ni Luh dan ibu tirinya mengaku sebagai pembuat kain untuk mencuri hadiah. Tapi saat kain itu disentuh tangan mereka, kain berubah menjadi kain compang-camping hitam! Raja tahu kebenarannya berkat keajaiban. Ni Tuwung Kuning dinikahkan dengan putra mahkota, menjadi ratu yang adil dan murah hati. Ibu tiri dan Ni Luh dihukum membersihkan kandang kerbau selamanya, sebagai pelajaran tentang iri hati dan kebohongan.
- Penulis: Rossa Rossa

Saat ini belum ada komentar