Menuju PERSIT BISA 2 Tahun 2026, Persit Kodam IX/Udayana Angkat Tenun Ikat Alam Khas Perbatasan ke Panggung Nasional
- account_circle Rossa Rossa
- calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Belu, NTT – Semangat kreativitas dan pemberdayaan ekonomi keluarga prajurit kembali ditunjukkan oleh Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XVI Dim 1605 Koorcab Rem 161 PD IX/Udayana yang siap ambil bagian dalam ajang bergengsi PERSIT BISA 2 Tahun 2026. Kegiatan tersebut akan digelar di Balai Kartini, Jakarta, pada 7–9 Mei 2026, sebagai wadah bagi anggota Persit dari seluruh Indonesia untuk menampilkan inovasi, kreativitas, serta produk unggulan UMKM binaan Persit.
Dalam ajang tersebut, UMKM Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XVI Dim 1605 menghadirkan produk unggulan berupa tenun ikat alam khas Kabupaten Belu, yang sarat nilai budaya sekaligus memiliki potensi ekonomi tinggi. Kehadiran produk ini tidak hanya menjadi bentuk partisipasi Persit dalam ajang nasional, tetapi juga sebagai upaya nyata memperkenalkan kekayaan budaya daerah perbatasan kepada masyarakat luas.
Salah satu anggota Persit yang aktif mengembangkan usaha tenun ikat tersebut adalah Cileberte Bete Mau, seorang pengrajin yang telah menekuni seni menenun sejak usia remaja. Melalui usaha yang dikelolanya di Kelurahan Fatukbot, Kecamatan Atambua Selatan, Kabupaten Belu, ia terus mempertahankan teknik menenun tradisional yang diwariskan secara turun-temurun, sekaligus berinovasi mengembangkan produk tenun menjadi berbagai kerajinan bernilai ekonomi.
Kain tenun ikat tradisional Kabupaten Belu, yang dikenal dengan sebutan Tais Belu, merupakan salah satu warisan budaya Nusantara yang kaya akan nilai sejarah, filosofi, dan identitas masyarakat perbatasan. Setiap motif yang dihasilkan memiliki makna tersendiri dan menjadi simbol kebanggaan masyarakat setempat.
Proses pembuatan Tais Belu masih menggunakan teknik menenun tradisional dengan pewarna alami, menjadikannya produk yang tidak hanya memiliki nilai estetika tinggi, tetapi juga ramah lingkungan. Keunikan tersebut membuat tenun Belu semakin diminati, baik sebagai produk budaya maupun sebagai komoditas ekonomi kreatif.
Bagi masyarakat Kabupaten Belu, kegiatan menenun juga memiliki peran penting dalam pemberdayaan ekonomi keluarga, khususnya bagi kaum perempuan. Banyak ibu rumah tangga yang menjadikan keterampilan menenun sebagai usaha produktif untuk membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Seiring perkembangan zaman, kain tenun Belu tidak hanya dimanfaatkan sebagai sarung, selendang, atau selimut yang digunakan dalam berbagai upacara adat seperti pernikahan, kelahiran, maupun ritual keagamaan. Berbagai inovasi juga terus dilakukan dengan mengolah kain tenun menjadi tas, aksesori, hingga busana modern yang kini mulai diminati pasar nasional bahkan internasional.
Partisipasi Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XVI Dim 1605 dalam ajang PERSIT BISA 2 Tahun 2026 menjadi momentum penting untuk memperkenalkan potensi tenun ikat alam khas Belu ke panggung nasional. Selain sebagai bentuk pelestarian budaya, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mendorong berkembangnya UMKM binaan Persit agar semakin berdaya saing.
Melalui dukungan Persit dan jajaran Kodim 1605/Belu, diharapkan kerajinan tenun ikat alam khas Belu tidak hanya tetap lestari sebagai warisan budaya bangsa, tetapi juga mampu menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat di wilayah perbatasan, sekaligus memperkuat peran Persit dalam mendukung pembangunan ekonomi kreatif daerah.
- Penulis: Rossa Rossa

Saat ini belum ada komentar